Sabtu, November 26, 2005

Agung 'Jepang' Murdanoto
Agung Primanto Murdanoto merupakan contoh sukses alumni Teladan83. Tambahan kata Jepang di tengah namanya, selain untuk membedakan dengan Agung yang lain (dikenal dengan Agung 'Cino'), juga untuk menunjukkan kemiripan wajah Beliau dengan orang-orang dari negeri Sakura. Tidak kebetulan kiranya julukan tersebut diberikan kepadanya, karena Beliau berhasil meraih gelar Doktor dari negeri Jepun. Tepatnya dari Kyoto University, salah satu universitas paling prestius di negara tersebut.
Bapak Agung merupakan bohir tetap dari setiap pertemuan Teladan 83. Suatu hal yang patut dilestarikan dan diteladani ;-)
Selain sukses dalam dunia akademis, karier pekerjaan Beliau pun sedang terang benderang. Jabatan Pak Agung sekarang adalah Deputy Director Bidang Pengembangan Usaha Agro pada PT Rajawali Nusindo (RNI). , suatu holding di bidang investasi. Mereka yang ingin terjun ke bisnis gula dan ingin mencicipi betapa manisnya keuntungan yang bisa diraih, maka Pak Agung adalah figur yang tepat untuk diajak konsultasi. Terutama untuk menghindari komplikasi karena diabet (terlalu banyak mengkonsumsi/mengimpor gula). Anda perlu bukti? Coba ketikkan nama Agung Primanto Gula/ Sugar di search engines, puluhan entries akan anda dapatkan.

Kegiatan ekstra kurikuler Pak Agung beragam: ngebrik via orari dengan callsign YD1MPA, anggota AvanzaXenia Community (Axic) dengan nama panggilan Agung Halilintars, anggota Terrano Club Indonesia dengan tunggangan Spirit S3 hitam berplat nomer hoki: kiu-kiu (bukan 69).
Mudah-mudahan dalam waktu dekat tingkatan jabatan yang lebih tinggi bisa diraihnya.


Sepinta
s ringkasan karier Pak Agung:
APM, banyak menghabiskan waktunya untuk mengabdi di bidang akademik di kampus IPB dimana beliau menyelesaikan pendidikan S-1 nya. Meraih gelar magister dan doktornya di bidang ilmu pertanian dari Universitas Kyoto Jepang.
1996-2003: Advisor di Tsukasa
1998-1999: Agromedicine Consultant
1999-2001: Senior Manager PT Indofarma
2001-2002: General Manager PT Warsons
2003-skr: PT RNI

arispria
pemburu alumni
Anang Rizkani Noor
Jalan hidup seseorang adalah sebuah misteri. Anang Rizkani Noor eks Teladan83 dari kelas P4 dapat menjadi contoh. Siapa nyana sekarang dia menjadi kondektur motor mabur padahal dulu waktu sma tunggangannya adalah motor bebek (butut). Sebelum bekerja di industri penerbangan perintis, Anang sudah malang melintang dan merasakan asam garam dunia pertambangan. Beliau pernah bekerja di Conoco, sebuah oil company dan kemudian berpindah ke Rio Tinto, raksasa pertambangan multinasional dengan jabatan terakhir sebagai Deputy Director External Relation. Perusahaan ini memproduksi batu bara, besi, tembaga, uranium, emas dan intan yang mempekerjakan 32.000 pada tahun 2004. Rio Tinto bermarkas di Melbourne, Australia dan London, Inggris (sumber Wikipedia). Terakhir ikut terlibat dalam proses pengakhiran tambang yang dilakukan oleh PT Kelian Equatorial Mining.

Ketua Komite Pemasaran dan Outreach Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) ini memiliki rumah di Ciganjur yang sangat istimewa dari sisi arsitekturial sehingga mendapat ulasan dari beberapa mass media diantaranya koran Republika dan Jakarta Post. Berikut kutipan dari tabloid Kontan yang berisi pemberitaan hijrahnya rekan kita ke dunia penerbangan perintis.

Jangan sia-siakan kesempatan yang hadir di depan mata. Anang Rizkani Noor agaknya memegang teguh prinsip ini. Begitu mendapat tawaran dari pengusaha Susi Pudjiastuti, bekas deputi hubungan luar Rio Tinto ini langsung menyambarnya.
Di perusahaan milik Susi, yang bergerak di bidang perikanan dan penerbangan, pria berusia 42 tahun ini bakal mengembangkan penerbangan perintis untuk daerah Papua. "Di Amerika Latin, industri penerbangan perintis merupakan tulang punggung untuk industri" kata dia. Oleh sebab itu ia ingin mengembangkan industri penerbangan perintis milik Susi ini di Papua agar industri di sana juga turut berkembang .
Wah gaji naik dong? Ia langsung menggelengkan kepalanya. Anang menjelaskan, ia menerima tawaran itu lebih lantaran ikatan pertemanan. "Saya dan Susi sudah berteman lama, tepatnya sejak bangku SMA," ujar Anang.
Selain itu, ia juga ingin berganti suasana kerja. Maklum sudah lebih dari 15 tahun ia berkubang di sektor pertambangan. "Saya kira sudah waktunya ganti suasana," katanya dengan nada mantap.

Salam,
arispria, pemburu alumni
Luthfie (bukan) Hakim

Luthfie Hakim, sejak di bangku SMA sudah tampak bakatnya sebagai ahli hukum. Apabila sedang mengajukan atau menjawab pertanyaan guru selalu bernada argumentatif (ngeyel) persis seperti gaya hakim atau pengacara. Time proven.
Waktu akhirnya menunjukkan, si Luthfie akhirnya betul-betul menjadi ahli hukum. Tetapi tidak sesuai dengan nama yang disandangnya, Luthfie lebih memilih sebagai pengacara. Barangkali profesi pengacara lebih 'menjanjikan' :-)
Kasus-kasus yang ditangani pengacara Luthfie tergolong kasus-kasus panas dan menyedot perhatian khalayak ramai. Diantaranya adalah menjadi pengacara ustadz Baasyir, kru Garuda yang menjadi tersangka kasus Munir, dirut PT Dirgantara, KH Jusuf 'Pak Ud' Hasyim berhadapan dengan Goldquest, mantah hakim agung Yahya Harahap, Muchtar Pakpahan, Imam Samudra.
Kalau semua klien Luthfie dituliskan dalam blog ini, akan tidak muat.
Jabatan prestisius yang disandangnya antara lain Sekjen Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI).
Pak Luthfie mempunyai motto yang menarik, salah satu diantaranya adalah 'membangun rumah harus dari dasar, tetapi membersihkan rumah harus dari langit-langit'. Sedikit komentar, itu motto ahli hukum atau ahli bangunan yak? ;-)
Dalam beberapa kesempatan yang terdokumentasi oleh media, teman kita ini ikut terlibat dalam upaya pencegahan liberalisasi Islam. Benar ya Pak?

Selasa, November 22, 2005

The Kill of Ansapesa

Teman-teman yang dulunya the kill, setelah lebih dari dua puluh tahun sekarang sudah menjadi juragan.
Wahyudi yang berdiri di belakang adalah pemilik franchise bimbingan tes.
Alief sudah jadi juragan minyak, Ndaru Lalito menjadi elit partai, Oyik mantan jagoan restrukturisi perusahaan, Nanang ahli politik.
Di foto berikutnya tampak Agam, Aming, ustadz Iwan, Alief (almarhum) dan Meditomo menunjukkan identitasnya sebagai wong jowo.


Sumber: Koleksi Pribadi Alief

Senin, November 21, 2005

Iwan Qodar Himawan

Siapa nyana Iwan, yang dulu sering kita lihat berjuang dengan menggeh-menggeh mendaki jalan Wirobrajan dengan naik sepeda onthel, sekarang sudah menjadi pemimpin redaksi majalah mingguan Gatra. Karier panjang yang dilalui katanya berawal dari menjadi 'wartawan' (dengan 'w' kecil) di majalah sekolah Sigma, kemudian entah bagaimana tahu-tahu sudah menjadi Wartawan (dengan 'W' besar) di majalah Tempo. Pada saat Tempo dibubarkan oleh pemerintah, bersama rekannya yang lain Iwan bergabung atau membentuk wadah baru (?) yakni majalah Gatra. Iwan sebetulnya seorang ingsinyur. Seharusnya lebih tepat kalau dia jadi 'kuli bangunan' atau 'kuli meteran' (karena dia lulusan geodesi) daripada menjadi 'kuli disket' seperti yang sekarang dilakoninya.

Iwan termasuk relatif telat dalam berkeluarga, mungkin karena males nyari jodoh atau karena ndak laku ;-).
Istri Iwan, Uni Lubis, juga berkecimpung dalam dunia pers. Sepengingatan saya, Uni Lubis dulu mengurusi Panji Masyarakat, kemudian menjadi host acara Duduk Perkara, yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam, dan terakhir bekerja di TV7 (group Kompas).

Tampaknya Iwan kalah populer dibanding istrinya. Parameternya apa?? Coba kita googling atau melalui Yahoo! dengan mengetik 'iwan qodar' hitung entry yang terdaftar, setelah itu lakukan hal yang sama dengan kata kunci 'uni lubis', kemudian bandingkan hasilnya.
Sorry ya Wan, ternyata search engines tersebut lebih kenal istri anda daripada anda :-(

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai Iwan dan keluarganya?, silakan kunjungi blog 'Kabar dari Permata Timur'

Sabtu, November 19, 2005

Susi Pudjiastuti

Kegiatan sosial teman kita Susi sangat beragam. Kenekatan Susi dalam mendaratkan pesawatnya pada bencana Tsunami tempo hari telah menjadi bahan pembicaraan yang luas, beritanya dapat dibaca di majalah Gatra dan harian Kompas edisi Januari 2005. Lihatlah keindahan dan kegagahan pesawat Cessna, yang saya dokumentasikan dalam blog ini, yang digunakan untuk mengirim bantuan pada hari-hari pertama bencana.
Ibu Susi juga seorang pengusaha perikanan yang tangguh dan juga pecinta lingkungan. Figurnya pernah diulas di harian Pikiran Rakyat, Kompas dan Blog-nya Iwan-Uni.

Ingatan saya sangat pendek mengenai profil kita ini. Dari berita-berita yang bisa saya baca baik di internet maupun media massa, Susi tidak pernah menyelesaikan SMA-nya. Saya juga tidak tahu persis alasan Susi meninggalkan sekolah. Cuma ada satu pemberitaan yang mengatakan bahwa pada saat itu dia mengenakan kaos 'golput', sehingga dikeluarkan dari sekolah (?)




Sumber: www.gatra.com; www.caravanpilots.com

Jumat, November 18, 2005

Drg. Farichah Hanum, MKes

Siapa ingat Farichah Hanum?? Eks P4 yang menjadi Dokter Gigi. Saya dapatkan berita dari Harian Suara Merdeka bahwa yang bersangkutan sudah menjadi Manajer Paviliun Garuda, Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang.
Kalaupun ada teman yang kebetulan bertemu dengan Ibu Manajer tersebut, mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi di paviliunnya. :-)
Jabatan di bidang profesi dokter gigi kita ini adalah anggota bidang dana dan usaha Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) periode 2005-2008.

Ruang Inap VIP B Paviliun Garuda Diresmikan
SEMARANG -"Pelayanan di sini seperti di hotel. Perawatnya juga baik dan ramah." Begitulah penurutan Suka Adiwijaya ketika Suara Merdeka berkesempatan mengunjungi putra ketiga mantan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip yang kebetulan sedang dirawat di salah satu kamar Paviliun Garuda RS Dr Kariadi (RSDK), Kamis (21/4).
Di sela-sela acara peresmian ruang inap VIP B Paviliun Garuda, Direktur RSDK dokter Gatot Suharto MKes MMR memang sengaja mengajak beberapa wartawan menemui para pasien untuk langsung menanyakan kepada yang bersangkutan bagaimana pelayanan dan sikap para perawat di RS terbesar se-Jateng itu. "Kalau Anda tanya saya, pasti saya jawab baik," selorohnya.
Gatot tidak menepis anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa perawat-perawat RSDK galak. "Namun itu masa lalu, sekarang kami sudah mengadakan pelatihan dan bimbingan bagi mereka. Bahkan cara tersenyum pun kami ajari," canda dia.
Humas RSDK Jayadi menambahkan, pihaknya bahkan juga menggelar lomba customer service antardivisi se-RSDK. "Semua itu kami lakukan demi peningkatan mutu dan pelayanan terhadap masyarakat," tegas Gatot. Hal senada juga diungkapkan Manajer Paviliun Garuda Dokter Gigi Farichah Hanum MKes.
Kepada Suara Merdeka Hanum menjelaskan, dibukanya Ruang VIP B yang bertarif Rp 250.000 per hari itu juga sebagai jawaban atas permintaan masyarakat yang begitu tinggi. "Walaupun saat ini Paviliun Garuda telah memiliki dua ruang inap presidential suit, 10 ruang inap VVIP, dan 16 ruang inap VVIP, ternyata masih kurang," jelasnya.
Karena itu, sambung dia, pembukaan ruang inap VIP B ini amat ditunggu-tunggu masyarakat. "Malah sudah ada yang pesan tiga kamar," imbuh dia.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Hadi Wibowo menyambut baik dibukanya Ruang VIP B Paviliun Garuda tersebut. Menurut Hadi, memang sudah menjadi tugas pemerintah untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada setiap lapisan masyarakat.
"Dengan dibukanya Paviliun Garuda ini, kami ingin membuktikan bahwa RSDK mampu melayani orang mampu," ujar Gatot. (nrs-73n)

Rabu, November 16, 2005

Danang Parikesit

Masih ingat rekan kita Danang? Beliau tinggal di Yogyakarta, menjadi peneliti, mengajar di almamaternya, Fakultas Teknik Universitas Gadjahmada, dan menjadi dosen terbang di beberapa perguruan tinggi. Danang adalah ahli transportasi. Menempuh S1 di UGM, S2 di Univerity of Leeds, United Kingdom, dan Program Doktor di Technische Universitaet Wien, Austria.

Kalau kita coba googling dengan kata kunci: 'Danang Parikesit' maka akan bertaburan entry yang berkaitan dengan aktivitasnya. Kunjungi juga website Danang di http://www.pustral-ugm.org/dpr
Di sana dapat kita ketahui secara komplit kegiatan akademis maupun sosialnya lengkap berikut foto-foto keluarganya. Terakhir saya lihat beliau di layar kaca salah satu TV swasta menjadi panelis dalam kampanye pemilihan calon gubernur DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Beliau banyak bertanya seputar visi para kandidat berkaitan dengan masalah transportasi di ibu kota. Bidang yang memang menjadi keahliannya.


Sumber foto: Situs Danang P

Sabtu, November 12, 2005


Joko Tirtono

Rekan kita Joko Tirtono ternyata mempunyai kegiatan yang seabreg, beberapa diantaranya adalah:
Berikut dikutipkan cerlu (cerita lucu) mengenai Joko Tirtono yang diunduh dari surat kabar Berita Nasional

Pemain PSIM asal Liberia
"Renang ... Hiii Takut ..!"

RATA
-rata orang senang bila diajak berenang. Renang dianggap olahraga paling komplit karena semua otot bergerak. Ada unsur rekreasinya lagi. Siapa sangka, tak semua orang menyukainya, bahkan takut. Dan orang yang takut renang bukan sembarang orang, namun pesepakbola dari PSIM.
Bagaimana ceritanya? Begini. Saat ini, tim PSIM yang diperkuat 2 pemain asing giat menjalani persiapan menghadapi Kompetisi Divisi I Liga Indonesia 2003, seputar bulan April mendatang.
Selama ini hampir setiap hari para pemain digenjot latihan fisik dan teknik. Sebagai selingan dan sekaligus menghindari kejenuhan, pelatih PSIM Erenst Pahelerang memprogramkan materi latihan rekreatif bagi para pemainnya yaitu renang.
Ketika program tersebut disampaikan, hampir semua pemain menyambut dengan antusias dan gembira. "Oke ... setuju banget," celetuk salah seorang pemain sambil tertawa girang. Semula, kegiatan berenang itu dijadwalkan hari Rabu (22/1) sore. Namun, karena pagi harinya para pemain sudah menjalani latihan fisik maka disepakati dilaksanakan hari Sabtu (25/1) lusa.
Berbeda dengan pemain lainnya, dua pemain asing asal Liberia, Roberto Kweiteh dan Raymond Pierre Sancho, justru terkejut. Spontan wajah mereka menjadi tegang. Karena belum bisa berbahasa Indonesia, Roberto dan Pierre kemudian berkata dalam bahasa Inggris, "No ... no ... I can't!".
Mendengar jawaban itu, pelatih Erenst menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu kewajiban yang harus diikuti semua pemain PSIM, termasuk pemain asing sekali pun. Tetapi, kedua pemain asing Liberia itu tetap ngotot tidak mau. Karena penguasaan bahasa Inggris-nya juga terbatas, Erenst tidak mau terlibat perdebatan lebih jauh dengan kedua pemain asing itu. "Tampaknya, dia mulai rewel dan mau mbalelo," celetuk Erenst sambil ngeloyor pergi. Ia mendekati Manajer Kompetisi, KMT A Tirtodiningrat yang bersama Ketua Umum PSIM, dr Hadianto Ismangoen Sp A dan tim medis, drg Tri Koentjoro tengah berbincang-bincang santai di halaman parkir Stadion Mandala Krida. "Mereka (kedua pemain asing Liberia itu) bilang nggak mau ikut," lapor Erents serius.
Antok - sapaan akrab Hadianto Ismangoen - dan drg Tri Koentjoro kemudian berupaya membujuk kedua pemain asing tersebut, agar bersedia ikut berenang. Tentu, disertai pengertian demi kebersamaan dan kekompakan tim. Tapi, jawabannya tetap sama. "Pokoknya nggak mau, sekali tidak, tetap tidak," begitu kira-kira kata mereka dalam bahasa Indonesia.
Akhirnya, manajer kompetisi, KMT A Tirtodiningrat yang lebih akrab dipanggil Joko Tirtono, mendekati kedua pemain asing tersebut. Sambil diajak berjalan santai menuju mobil antar-jemput yang biasa digunakan pemain asing PSIM, bos Gembira Loka tersebut menanyakan, alasan mereka kok tidak mau ikut berenang. Kebetulan, Joko Tirtono cukup fasih berbahasa Inggris, sehingga percakapan dengan kedua pemain asing itu bisa nyambung.
Mendengar alasan pemain asal Liberia tersebut, Joko Tirtono langsung tertawa terbahak-bahak. Ia memanggil Antok, dokter Tri, Erenst dan perangkat tim lainnya. "Yang goblok itu kita semua. Mereka jelas nggak mau ikut berenang, wong tidak bisa. Katanya, di negaranya (Liberia) sana, tidak ada air yang melimpah seperti di sini. Yang ada cuma hamparan padang pasir. Jadi, mereka takut, kalau ikut pasti akan tenggelam dan bahkan bisa mati. Mereka bilang datang ke sini mau main bola, bukan untuk setor nyawa," kata Joko Tirtono.
Setelah mendengar penjelasan Joko itu, semuanya hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. "Kalau gitu okelah, yang penting mereka ikut. Nanti biar berenang saja di tempat khusus untuk anak-anak, sehingga dijamin tidak tenggelam," timpal Antok sambil tertawa geli. (rob)

Jumat, November 11, 2005

Totem Ansapesa
Kalau totem suku Indian di Amerika sana dibuat dari batang kayu. Kalau totem suku ansapesa di Jowo terbuat dari manusia hidup. Hopo tumon?


Sumber: Koleksi (alm) Alief




Dunung dan Oyik
Dunung dan Oyik berpose pada suatu kejuaraan binaraga.
Pada kesempatan itu lawan potensialnya hanya Ade Rai.
Berita yang beredar, Ade Rai mengundurkan diri sebelum bertanding,
karena Oyik dan Dunung mengirimkan gambar tersebut ke website-nya Ade Rai.
Tampaknya Ade Rai keder melihat gambar yang nggilani tersebut.
Kata mereka, 'ini bagian dari psywar'.
Kabar terakhir, mereka tidak lagi berkolaborasi.
Penyebabnya adalah masing-masing meng-klaim:
'Tetek' siapa yang lebih besar :-)

Kamis, November 10, 2005

Blog Teladan 83

Mengikuti tren di cyberspace, saya berinisiatip untuk ikutan ber-blogging ria. Blog ini terutama saya dedikasikan untuk alumni SMA I 'Teladan' Yogyakarta, tahun lulus 83. Isi blog kurang lebih berita tentang aktivitas alumni yang berserakan di dunia maya serta capaian-capaian (achievements) mereka. Kalau memungkinkan juga foto-foto mereka, yang bisa saya unduh, akan saya pajang di blog ini.
Harapannya adalah agar para alumni bisa saling pantau dan tali silaturahmi tetap dapat terjalin.
Sumbangan foto-foto kenangan tempo doeloe sangat ditunggu untuk bisa dinikmati bersama. Kirimkan saja ke saya kemudian biarkan saya yang cancut tali wondo.

Salam,

Aris Priatno
Eks P4
arispria@yahoo.com
http://groups.yahoo.com/group/teladan83