Selasa, Desember 18, 2007

Rahasia Tersembunyi di Balik Stiker

Memorabilia di samping ini adalah stiker tanda parkir di SMA I jaman dulu. Hanya anak murid dari keluarga golongan menengah ke atas yang memiliki stiker pas tersebut. Dengan kata lain pemegangnya adalah kaum elite.

Mayoritas anak murid sma1 jaman dulu adalah pejalan kaki atau backpacker menurut istilah sekarang, naik kol kampus atau paling banter bersepeda onthel.
Foto digital stiker di samping ini dikirim oleh Pak Hatta. Kalau dipikir-pikir hal ini terasa aneh. Stiker berusia lebih dari 1/4 abad tersebut di tangan Pak Hatta ternyata masih lus-mulus kondisinya. Stiker tersebut sepertinya tidak pernah ditempelkan di motor. Fenomena tersebut menerbitkan beberapa spekulasi.

1) Sdr Hatta pada saat itu sebetulnya tak bermotor, tapi demi sebuah imej agar bisa dianggap golongan elite, maka dengan segala daya upaya saudara kita tersebut berusaha mendapatkan legitimasi dengan memiliki stiker. Jadilah dia "stiker tak bermotor" yang abadi tersimpan rapi.

2) Sdr Hatta dihinggapi kompleks rendah diri. Ketika kenalan dengan gadis nonTeladan, stiker tersebut yang ditunjukkan sebagai bukti bahwa ybs adalah murid sma teladan. Jangan-jangan sampai sekarang stiker tersebut masih dimanfaatkan. Siapa yang tahu?? Pantaslah kalau stiker tersebut masih kinclong sampai saat ini.

3) Sdr. Hatta adalah seorang cenayang atau paranormal, yang dapat meramal bahwa stiker parkir tersebut dua puluh lima tahun kemudian dapat di-upload di internet dengan teknologi komputer.

4) Sdr Hatta memiliki kelainan psikologis. Jamak apabila orang menyimpan sertifikat deposito selama bertahun-tahun. Tapi kalau ada yang menyimpan stiker sepanjang masa itu? Apa (yang harus) dikatakan dunia ??

Senin, Desember 17, 2007



Yang Mana Dr. Agus Santoso Budi?

Gambar di samping adalah tim dokter RS DR Soetomo Surabaya yang sedang melakukan operasi plastik rekonstruksi wajah total (face off) terhadap Siti Nur Jazilah.

Salah satu dokter tersebut adalah Dr. Agus Santoso Budi, dulu biasa dipanggil dengan nama Agus SB, alumni SMA 1 Yogyakarta. Sangat sulit bagi juru kunci untuk menunjuk dengan tepat yang mana dari keempat dokter pengoperasi tersebut adalah si Agus SB karena semuanya bermasker.

Duluu sekali, pernah ada suatu masa ketika murid laki-laki sma 1 pada sibuk untuk menumbuhkan kumis dalam rangka menarik lawan jenis. Mereka melakukannya dengan berbagai cara diantaranya dengan menggunakan minyak firdaus atau biji kemiri yang digoreng kering dan ditumbuk kemudian dioleskan di sela antara hidung dan bibir atas. Si Agus kita ini praktis tanpa usaha yang berarti sudah mempunyai kumis yang tebal nan menawan.

Terlepas dari masalah kumis, operasi face off yang dilakukan oleh tim tersebut sangat fenomenal dan mendapat pemberitaan yang luas dari media massa.

Beberapa kutipan pernyataan pak Dokter Agus Kumis... eh salah Agus SB yang terdokumentasi diantaranya adalah:

TEMPO INTERAKTIF: Menurut dokter Agus Santoso Budi, anggota tim dokter, operasi tersebut cukup memuaskan "Kesulitan yang dihadapi pada saat mencari pembuluh darah. Kami harus hati-hati jangan sampai pembuluh darah pecah atau putus," katanya.

DETIK INET: Dr. Agus Santoso Budi menjelaskan "Untuk hidung sengaja agak tambah tetapi bukan untuk dimancungkan. Ini tujuannya agar bentuk wajahnya selaras setelah dioperasi"

SUARA MERDEKA: Dokter Agus SB menyatakan "Operasi face off terhadap Lisa baru tahap pertama. Jika operasi tahap itu berhasil, dibutuhkan tempo selama enam bulan sampai setahun untuk penyembuhan lukanya"

Kembali ke teka-teki yang mana Dokter Agus SB di antara dokter di atas?
Tampaknya kali ini kita perlu bantuan cream semacam Firdaus Oil untuk kita oleskan pada foto tim dokter tersebut tepat pada masker yang menutup antara hidung dan bibir untuk mengetahui yang mana Dokter Agus SB teman kita semasa sma dulu. Kalau ada diantaranya yang kemudian tumbuh kumis, pastilah itu bukan Dokter Agus SB. Karena dokter kita tersebut tidak memerlukan segala jenis cream pembantu penumbuh kumis.

Kamis, Desember 13, 2007

Berkah Mbah Maridjan
Dalam rangka menjaga blog ini, juru kunci pernah sowan kepada Juru Kunci Sejati Gunung Merapi: Mbah Maridjan, mohon supaya blog teladan83 tetep roso dan selalu ramai dikunjungi oleh wadyabalanya serta dijauhi oleh gangguan hacker iseng.

Senin, Desember 10, 2007

JULIANTO ALIAS CUNGI


Tak dinyana, teman kita yang suka wira-wiri Yogya-Solo dengan menggunakan prameks ini ternyata berperan ganda sebagai seorang advertiser supervisor untuk iklan Inza dengan tema tukang cukur di Yangoon. Simak sampel iklan berjudul 'Final Cut' dengan mengklik judul tersebut.
Cungi adalah alumni P4 sebelum meneruskan pendidikannya ke Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Sekarang ini Beliau bekerja di PT KONIMEX Solo, dan sering dodolan obat ke luar negeri terutama Vietnam dan Kamboja.
Juru kunci tidak memiliki foto mutakhir yang bersangkutan. Tetapi untuk visualisasi, gambar "Shaggy" Scooby Doo sangat membantu kita untuk membayangkan seperti apa tokoh kita yang satu ini.

Gambar di samping adalah si Shaggy ketika panik karena ketinggalan kereta Prameks, Yogya-Solo.

Pabrik Tegel Kunci yang berlokasi di Jalan Patuk, kabarnya sekarang ini dikelola oleh Mega Karang. Nama ini kedengaran asing. Tapi kalau diganti dengan Mega Puspa, ingatan kita bisa jadi terarah pada teman semasa sma jadul.
Yak betul, Mega yang Karang maupun yang Puspa menunjuk figur yang sama, yaitu Mega teman sma jadul kita eks S2.
Artikel yang bagus mengenai sejarah pabrik tegel kunci dapat dibaca dengan mengklik frase tersebut.
Harian Republika pernah mengulas pabrik ini dan penjelasan Mega. Berikut kutipannya:

Yang Klasik Tetap Dilirik

Di tengah serbuan keramik sebagai bahan penutup lantai favorit saat ini, tegel ternyata masih memiliki tempat di hati para pecintanya. Masih ingatkah Anda pada tegel? Ya benar, dia adalah bahan penutup lantai paling favorit di masa lalu. Lantai di rumah orangtua atau nenek kita dulu mungkin sekali menggunakan tegel. Banyak orang bilang, lantai dari tegel lebih sejuk dan dingin dibanding lantai keramik. Mega A Karang, pengelola pabrik tegel cap Kunci, setuju dengan hal itu. ''Tegel memiliki pori-pori sehingga bisa 'bernapas' dan lebih cocok untuk negara tropis karena lebih sejuk,'' kata dia.

Selain itu, tegel juga tahan lama. Tegel, kata Mega, bisa tahan 100 tahun lebih serta tidak mudah pecah. ''Lihat saja, tegel di keraton-keraton seperti Keraton Yogyakarta, barangkali usianya sudah lebih dari 100 tahun. Walau setiap hari diinjak-injak orang, tegelnya masih tetap mengkilat,'' kata alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jurusan Kriya Logam ini.

Tegel yang dibuat dari campuran semen dan pasir ini, menurut Mega, memang bisa sangat awet asal dirawat secara benar. Untuk membersihkan tegel misalnya, ibu dua anak ini tidak menyarankan penggunaan pembersih lantai yang mengandung HCl. Alasannya, HCl bisa menggerogoti semen dan membuat warna tegel belang-belang.

Tegel kurang mengkilat? Itu kata sebagian orang. Tapi kata Mega, tegel pun bisa kinclong seperti keramik. ''Caranya, setelah tegel dipasang selama dua minggu dan tidak bergerak lagi, gunakan mesin poles sehingga tegel mengkilat terus. Selanjutnya, cukup disapu dan dipel seperti halnya keramik.''

Karena itu, Mega merasa mantap untuk terus menghidupkan pabrik tegel cap Kunci yang telah beroperasi sejak 1927. Berlokasi di Yogyakarta, pabrik ini memproduksi tegel dengan aneka motif klasik. Dari sekitar 150 motif yang ada, hanya ada sekitar 20 motif baru. Motif-motif lama itu antara lain bercorak bunga yang cocok untuk ruang tamu, ruang makan, dan teras. Motif binatang, seperti bebek atau ayam, yang pas untuk kamar anak dan kamar mandi. Sementara motif garis-garis biasanya digunakan untuk tempat ibadah seperti masjid.

Anda tertarik? Jangan khawatir, walau tampil dengan motif zaman dulu, tegel masih sangat relevan dengan rumah-rumah masa kini, asal disesuaikan dengan tema hunian. Karena itu, jangan heran jika masih banyak orang yang setia pada tegel, khususnya tegel cap Kunci. Kata Mega, para pemesan biasanya adalah orang-orang yang sangat menghargai buatan tangan, menyukai barang yang natural, atau penggemar barang antik. ''Pembeli kebanyakan dari Jakarta, Bali, malah ada juga yang dari luar negeri seperti London dan Kuala Lumpur.''

Sumber foto: http://www.yogyes.com

Sabtu, Desember 08, 2007



Dr. Christine Wulandari

Dr. Christine, dosen pada Fakultas Pertanian Jurusan Manajemen Hutan Universitas Lampung, adalah pecinta alam sejati. Hobinya selain mengajar adalah keluar masuk hutan.

Alumni Fakultas Kehutanan UGM ini mempunyai afiliasi lain yaitu WWF dan merupakan salah satu pioner penyayang badak Jawa... Tidak percaya? Penasaran?? Silakan berkunjung di situs Rhinocare Program dengan mengklik ikon Badak ini

Di situs tersebut, Christine menyampaikan komentar sebagai berikut: "I hope the program could be designed to give individuals, families, groups, business/corporate and other organizations in Indonesia an opportunity to contribute towards the conservation of Javan rhinos wild by adopting them symbolically"

Kita dipersila untuk mengadopsi, dengan cara tertentu, kepada para badak tersebut yang sebagian kecil sudah diberi nama: Dablo, Jampang, Macho, Lulu dan Rara, Euis dan Menul. Untungnya, atau lebih tepat sayangnya, belum ada nama-nama generik yang diberikan kepada para badak yang belum teridentifikasi seperti: brindil atau babah misalnya ;-)) Barangkali kalau nama-nama tersebut yang diambil, banyak anggota milis teladan83 yang berminat untuk mengadopsi mahluk yang lucu dan menggemaskan tersebut.

Ikuti terus kelanjutan profiling Christine di Blog Teladan83,

Stay tune !

Jumat, Desember 07, 2007

Dr. Danang Parikesit
Memastikan Dosen UGM Merasa Nyaman Meneliti
Dr. Tech. Ir. Danang Parikesit, M.Sc. belum lama menjadi Asisten Wakil Rektor Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Akan tetapi, dosen Jurusan Teknik Sipil UGM ini mengaku senang dengan jabatannya yang sekarang. Dia merasa senang bisa memuaskan keinginannya ikut menjamin mutu penelitian di UGM. Mengenai ini, dia mengaku mendapat pembelajaran saat mendampingi Bu Retno, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) berkunjung ke Universitas Putra Malaysia (UPM). "Mungkin kita bisa belajar pengalaman dari UPM. Di sana (UPM) sudah ada standar mutu pusat studi dan penelitian. Karenanya, jika dibandingkan dengan rekan-rekan di negara jiran tersebut, UGM tertinggal dalam hal penjaminan mutu penelitian. Kalau kondisi UGM sendiri tidak memiliki jaminan mutu hasil penelitian seperti itu, bagaimana mungkin ada orang mau meminta kita untuk melakukan penelitian", katanya.
Ikuti reportase lengkapnya di Kabar UGM Online.

Sabtu, Desember 01, 2007


Aulia Shina Prima aka Oyik si Bapak Hilang
Setelah sekian lama tidak muncul di milis, tiba-tiba Oyik muncul di acaranya Pak Agung di Bogor Lakeside.
Dulu Oyik bekerja di Jakarta Initiatives (Prakarsa Jakarta) sekarang di Bank Bumiputera. Anggota Ansapesa ini setamat SMA melanjutkan kuliah di ITB.
Oyik kawan kita ini adalah penghobi fotografi. Contoh jepretannya berhasil saya unduh dari situs koleksi fotonya di internet. Gambar tersebut adalah Departemen Keuangan di Lapangan Banteng, tempat Oyik pernah nyangkul selama beberapa waktu.
Ladies for Lamb



Di acara sunatan Dr. Agung Primanto (bukan Pak Agung tapi anaknya). Wiwik dan Evy datang berbarengan. Bukan datang bersamaan yang istimewa dari mereka, tapi kudapan yang disantap itu yang membuat mereka beda. Kambing muda guling, Boo'... !!
Persiapan week end Bu?? ;-))