Joko Tirtono Memberi Contoh BersepedaPengantar Juru Kunci:
Juru kunci menemukan berita mengenai aktivitas rekan kita Joko Tirtono, bos Bonbin Gembira Loka, di Koran Radar Jogya beberapa waktu yang lalu. KMT Tirtodiningrat tersebut diminta komentarnya mengenai bike to work. Sebagai pemanis artikel, saya sertakan seekor monyet yang bersepeda untuk menggambarkan kedekatan rekan kita dengan dunia fauna. Jangan ditafsirkan macam-macam ;-))
Juru kunci menemukan berita mengenai aktivitas rekan kita Joko Tirtono, bos Bonbin Gembira Loka, di Koran Radar Jogya beberapa waktu yang lalu. KMT Tirtodiningrat tersebut diminta komentarnya mengenai bike to work. Sebagai pemanis artikel, saya sertakan seekor monyet yang bersepeda untuk menggambarkan kedekatan rekan kita dengan dunia fauna. Jangan ditafsirkan macam-macam ;-))
NAIK sepeda ke tempat kerja menjadi kenikmatan tersendiri di tengah penuh sesak polusi udara dan makin membumbungnya harga bahan bakar. Tubuh menjadi lebih sehat dan semangat kerja pun meningkat.
Itu yang menjadi dasar pemikiran Ariyanto Usman, seorang karyawan sebuah kantor penerbitan di Sleman. Setiap hari Aria, sapaan pria lajang itu, mengayuh sepeda gunungnya dari rumah kontrakannya di bilangan Lempongsari Ngaglik Sleman ke kantornya Jalan Kaliurang km 5.
“Ini wujud nyata mendukung program pemerintah untuk hemat BBM dan ikut menjaga mengurangi polusi udara dengan penggunaan kendaraan bermotor. Lebih kongkret. Tak seperti orang lain yang teriak-teriak tapi tetap saja ikut mengobral polusi udara,” tandas Aria.
Ia pun tak merasa habis waktu dengan mengontel sepeda seharga Rp 1 jutaan itu. Hanya selang waktu 5 menit lebih lama dibanding dengan berkendaraan motor. Ia pun merasa nyaman dengan sepeda, meski sebenarnya ia bisa membeli motor.
Senada juga diungkapkan KMT Tirtodiningrat alias Joko Tirtono, Bos Kebun Binatang Gembiraloka Jogja. Seminggu sekali ia menyempatkan diri untuk bersepeda ke tempat kerja. Padahal jarak tempuh dari rumah kediamannya di kawasan Jalan Godean Sleman ke Gembiraloka lumayan jauh.
“Dulu saya sempat setiap hari. Awalnya jelas untuk penyembuhan saja. Tapi justru kebugaran tubuh kita bisa terjaga. Dan itu nikmat sekali bagaimana kita bisa mendapatkan kesehatan. Murah meriah kok sehat dengan cara ini,” tukas Joko.
Tidak ada keraguan atau rasa malu bagi Bendahara KONI DIJ itu. Sehat, baginya, sangat mahal untuk dijaga. Tak heran, jika mengaku mendapatkan kenikmatan di aktivitas yang sehat tersebut.
Ia sempat bermimpi seandainya Jogja kembali menjadi kota sepeda, tak mustahil kondisi Kota yang panas ini bakal menjadi sejuk. “Berkeringat nggak apa-apa. Sampai kantor kan bisa dibilas air. Malah menjadi lebih segar. Namanya juga kita sekaligus berolahraga,” terangnya. (ayu)
Itu yang menjadi dasar pemikiran Ariyanto Usman, seorang karyawan sebuah kantor penerbitan di Sleman. Setiap hari Aria, sapaan pria lajang itu, mengayuh sepeda gunungnya dari rumah kontrakannya di bilangan Lempongsari Ngaglik Sleman ke kantornya Jalan Kaliurang km 5.
“Ini wujud nyata mendukung program pemerintah untuk hemat BBM dan ikut menjaga mengurangi polusi udara dengan penggunaan kendaraan bermotor. Lebih kongkret. Tak seperti orang lain yang teriak-teriak tapi tetap saja ikut mengobral polusi udara,” tandas Aria.
Ia pun tak merasa habis waktu dengan mengontel sepeda seharga Rp 1 jutaan itu. Hanya selang waktu 5 menit lebih lama dibanding dengan berkendaraan motor. Ia pun merasa nyaman dengan sepeda, meski sebenarnya ia bisa membeli motor.
Senada juga diungkapkan KMT Tirtodiningrat alias Joko Tirtono, Bos Kebun Binatang Gembiraloka Jogja. Seminggu sekali ia menyempatkan diri untuk bersepeda ke tempat kerja. Padahal jarak tempuh dari rumah kediamannya di kawasan Jalan Godean Sleman ke Gembiraloka lumayan jauh.“Dulu saya sempat setiap hari. Awalnya jelas untuk penyembuhan saja. Tapi justru kebugaran tubuh kita bisa terjaga. Dan itu nikmat sekali bagaimana kita bisa mendapatkan kesehatan. Murah meriah kok sehat dengan cara ini,” tukas Joko.
Tidak ada keraguan atau rasa malu bagi Bendahara KONI DIJ itu. Sehat, baginya, sangat mahal untuk dijaga. Tak heran, jika mengaku mendapatkan kenikmatan di aktivitas yang sehat tersebut.
Ia sempat bermimpi seandainya Jogja kembali menjadi kota sepeda, tak mustahil kondisi Kota yang panas ini bakal menjadi sejuk. “Berkeringat nggak apa-apa. Sampai kantor kan bisa dibilas air. Malah menjadi lebih segar. Namanya juga kita sekaligus berolahraga,” terangnya. (ayu)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar