Kamis, November 15, 2007

Seputar Penarikan Iuran Televisi
Oleh: Yusti Probowati


NIAT individu ditentukan oleh dua hal yaitu sikap individu terhadap perilaku dan norma subyektif tentang perilaku. Sikap individu terhadap perilaku membayar iuran TVRI misalnya apakah membayar iuran TVRI merupakan sesuatu yang penting bagi dirinya?
Apa kegunaan membayar iuran TVRI bagi dirinya?

Sedangkan norma subyektif tentang perilaku membayar iuran TVRI adalah persepsi individu tentang apa yang dipikirkan orang yang penting baginya dalam hal membayar iuran TVRI. Misalnya individu mempersepsi bahwa pak RT, atasannya, pejabat yang dikenalnya tidak membayar iuran TVRI dan mereka tidak meng harapkan individu membayar iuran TVRI.
Dengan menggunakan teori Fisbein & Ajzein di atas, jika Yayasan TVRI akan mengubah perilaku masyarakat dari tidak membayar menjadi membayar iuran TVRI maka dapat dilakukan dua cara. Yang pertama adalah dengan mengubah sikap individu terhadap perilaku membayar iuran TVRI. TVRI harus membuktikan bahwa membayar iuran TVRI itu penting bagi individu (bukan hanya bagi TVRI), misalnya jika tidak membayar iuran TVRI tidak bisa menyaksikan acara TVRI yang menarik seperti Dunia dalam Berita. Dan tentu saja TVRI saat ini menghadapi persaingan ketat dengan bermunculannya TV Swasta yang menyuguhkan acara yang ngetop dan OK.

Langkah kedua yang perlu dilakukan adalah mengubah norma subyektif masyarakat tentang perilaku membayar iuran TVRI misalnya dengan melibatkan pejabat yang mengatakan bahwa para pejabat, tokoh masyarakat juga membayar iuran TVRI (bukan dengan melibatkan pejabat untuk menakut-nakuti) dan mereka mengimbau/mengarahkan untuk membayar iuran TVRI.

Mengubah perilaku.
Langkah pengubahan perilaku dengan cara di atas memang membutuhkan waktu panjang dan melibatkan banyak pihak, namun hasilnya tidak diragukan. Berbeda dengan pengubahan perilaku dengan ancaman hukuman yang seringkali gagal, contoh Bakorstanasda (ikut) menagih iuran TVRI yang tampaknya akan kurang mulus karena ditentang masyarakat sehingga Menteri Penerangan Hartono menyatakan akan memberhentikan jika dirasa meresahkan masyarakat (Jawa Post, 22 Agustus 1997). Contoh pengubahan perilaku dengan teknik Fisbein & Ajzein yang sukses adalah langkah BKKBN dalam mempropagandakan KB di tahun 1970-an. Perilaku masyarakat dari tidak ber-KB menjadi ber-KB dilakukan secara perlahan namun pasti dan melibatkan banyak pejabat dan tokoh masyarakat (termasuk tokoh agama). Banyak informasi tentang pentingnya ber-KB bagi masyarakat. Di samping itu, pemberian penghargaan KB lestari merupakan contoh hadiah yang membanggakan masyarakat karena dapat bertemu dengan pejabat bahkan Presiden Soeharto. Penghargaan KB lestari memiliki pengertian bahwa pejabat (bahkan Presiden) mengharapkan individu untuk ber-KB. Hasilnya pada saat ini generasi muda merasa tidak terpaksa ber-KB karena merasa KB memang bermanfaat bagi dirinya (sikap positif) dan semua orang mengharapkan in dividu ber-KB (norma subyektif positif).

Semoga kasus penarikan iuran TV ini dapat menjadikan pelajaran bagi kita semua agar tidak hanya mudah memberi hukuman untuk mengubah perilaku orang lain, karena langkah ini secara teoritik dianggap tidak efektif. Dan teori Skinner tentang pentingnya hadiah untuk mengubah perilaku muncul 44 tahun yang lalu. Betapa kunonya kita jika di ujung abad 20 masih mengguna kan hukuman dalam mengubah perilaku.

*) Yusti Probowati, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya di Surabaya.

Tidak ada komentar: