Senin, Oktober 22, 2007



Hatta
Kemampuan dan kompleksitas kepribadian kawan kita yang satu ini tidak sependek namanya.
'Kemampuan-lebih' apalagi yang bisa dituntut dari seseorang berwajah babah, bernaluri politisi dan berkemampuan jurnalistik yang tinggi? Semua kualifikasi tersebut dimiliki oleh seorang Hatta. Dengan kata lain Hatta merupakan figur lengkap dan paripurna sebagai pemimpin bangsa di masa depan yang selama ini dirindukan. Dia ini adalah si satria piningit yang sering disebut-sebut orang.
Berikut adalah sampel reportase jurnalistik Pak Hatta yang konon mendapat nominasi hadiah "Pulitzer" adalah sebagai berikut:

JOGJA. TLD83. Seperti yang telah diduga banyak pihak, akhirnya pertemuan buka bersama di Jakarta menyisakan banyak kekecewaan. Beberapa calon peserta pertemuan sebenarnya juga telah mengendus bakal terjadinya hal ini. Misalnya Anang, yang tiba-tiba tidak datang dengan alasan ke Aceh. Rinto beralasan anaknya ngompol, padahal visanya ke Indonesia ora metu (kowe WNAm to Rint? Opo WNPat?) . Namun ada pula yang tidak diundang tiba-tiba hadir walau harus menggunakan dana non-budgeter, misalnya Hatta,
Pertemuan Jakarta yang digagas Ami Tantri dan Aris, dengan memperalat Agung, itu semula diadakan untuk membentuk kepengurusan pusat atau DPP, tapi akhirnya tidak menghasilkan apa-apa dan hanya berbentuk acara kangen-kangenan dan makan-makan. Tentu juga minum dan udud. Karena kakunya suasana akhirnya Yoyok berupaya mencairkan suasana dengan gurauan-guarauan masa lalu dan sesekali garuk-garuk kepala mencari ide tambahan.
Surdayi, ketua partai saat orde baru, yang dengan tujuan tertentu dihadirkan langsung dari Makbes oleh Yoyok pun terlihat hanya cengar-cengir saja menunjukkan tidak sukanya pada hidden agenda yang telah disiapkan beberapa pihak.
Atiek, tokoh perju-angan perempuan dari daerah yang paling saru di Indonesia pun tak berhasil mengendalikan suasana, walau telah berupaya menunjukkan alamat emailnya yang heboh itu ke banyak pihak.
Catur nampaknya yang paling menikmati suasana itu dengan tindak-tanduknya yang bola-bali. (Tindak-tanduk = jer ngadeg njipuk tandukan). Kehadiran tokoh lama yang dulu saat berkuasa sangat berpengaruh, Aming, pun tak mampu menahan gejolak kubu-kubu yang bertikai.
Akibat ketidakpuasan atas draft kepengurusan ini, dua tokoh yang tersingkir dari pencalonan, Anang dan Iwan, akhirnya menggagas pertemuan Jogja. Dengan memperalat tokoh lokal yang lugu-lugu, yaitu Himawan, Cungi dan Hatta maka dengan gampangnya terkumpul massa di Kotagede, tempat yang sangat legendaris menjadi tuan rumah Konggres PKI masa itu. Paijo-pun dilibatkan mengerahkan massa hingga ke daerah kekuasaan Paimo di Prambanan.
Kedua tokoh yang kecewa dengan hasil pertemuan Jakarta itu dalam menggagas pertemuan Jogja juga didukung tokoh perempuan yang berseberangan dengan Atiek, siapa lagi kalau bukan Dinar. Sedangkan koalisi Ananta dan Yuli pecah. Yuli tidak ikut masuk ruang dengan alasan nunggu anaknya di parkiran. Sumber lain mengatakan hal itu direkayasa bersama Cungi dengan produk CTM-nya.
Sampai saat ini hasil pertemuan Jogja yang sampai diadakan dua kali secara rahasia itu belum juga katahuan hasilnya, tetapi disinyalir bakal ada DPP kembar, yaitu DPP Jakarta dan DPP Jogja (koyo Muhammadiyah wae; nek NU eneng DPP Jkt karto DPP Jombang; nek YayukFox DPP-ne Keparakan karo DPP Nagan).
Dari keterangan sumber yang layak dipercaya, atas pertemuan Jogja tersebut, kandidat kuat Ketua DPP kubu Jakarta, Aris Prihanta menyatakan siap melaporkan Iwan, Anang dan Dinar kepada Yoyok dan Surdayi dengan didampingi Luthfie. Kemarin sore laporan itu sudah disampaikan di tempat Bu Timin. (pzq).

Tidak ada komentar: